Kamis, 17 November 2011

tawang alun


Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menyimpan sejuta cerita sejarah. Wilayah di ujung timur Pulau Jawa ini juga identik dengan peninggalan zaman Majapahit. Sebelum menjadi kabupaten, daerah ini dikenal dengan nama Blambangan. Penguasa yang paling terkenal adalah Prabu Tawangalun. Bekas peninggalan kerajaan ini banyak ditemukan di Desa Macanputih, Kecamatan Kabat.
Tidak ada prasasti yang menyebutkan tentang kisah Tawangalun. Namun dari penelusuran para sejarawan, raja Hindu ini memerintah sekitar tahun 1645-1691. Kepastian tahun ini didapatkan dari tulisan Leukerker, penulis dari Belanda. Dikisahkan, Tawangalun adalah salah satu keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit dari keluarga di pegunungan Tengger.
Silsilah Tawangalun berawal dari Lembu Anisroyo, bangsawan dari daerah Tengger, Bromo. Dari bangsawan ini lahirlah Ario Kembar yang memiliki putra Bima Koncar atau Minak Sumende,dilanjutkan dengan Minak Gadru atau Minak Gandrung, kemudian Minak Lampar atau Minak Lumpat. Dari bangsawan terakhir ini nama Tawangalun muncul,yakni Tawangalun I dan Tawangalun II.
Ada dua babad berbeda yang mengisahkan kebesaran Tawangalun. Termasuk julukan siapa yang dikenal dengan Tawangalun I dan II. Menurut babad Sembar, kemunculan Tawangalun diawali penyerbuan Minak Lumpat ke keraton Kedawung. Saat itu, Kedawung dengan wilayah Lumajang, Malang dan Blambangan dikuasai oleh Pangeran Singosari.
Penyerbuan itu berhasil. Pangeran Singosari takluk dan kabur ke Mataram meminta perlindungan Sultan Agung. Peristiwa ini meletus sekitar tahun 1638-1639. Saat kabur, Pangeran Singosari membawa Putranya Mas Kembar. Sepuluh tahun berselang, Mas Kembar dikawinkan dengan selir Sultan Agung yang hamil tiga bulan. Kemudian dijadikan raja di Blambangan setelah menaklukan wilayah ini. Tahun 1645, Mas Kembar dilantik menjadi raja Blambangan di Probolinggo dan bergelar Prabu Tawangalun. Oleh Sultan Agung dia diperintahkan melindungi Blambangan dari serangan Bali.
Setelah dilantik, Mas Kembar berniat membebaskan diri dari Mataram dengan bantuan keris si Gagak milik gurunya, Ki Wongso Karyo. Dikisahkan, penguasa Mataram, Amangkurat I yang dikenal dengan Pangeran Kadilangu. haus dan kepingin minum keris orang Blambangan. Kala itu, keris Wongso Karyo berubah menjadi air, lalu diminum. Saat bersamaan, Mas Kembar pamit pulang ke Blambangan. Saat itulah, keris Wongso Karyo keluar lagi dari dada Pangeran Kadilangu, dan membuatnya tewas.
Melihat lawannya tewas, Mas Kembar mengajak bawahannya pulang ke Blambangan. Bersamaan itu, lima senopatinya diperintahkan menggelar perang besar yang dikenal dengan perang undur-undur. Senopati Blambangan dengan kesaktiannya mencabut pohon kelapa, lalu mengibaskanya di sepanjang jalan yang dilewati. Sekitar tahun 1676, Tawangalun dinobatkan sebagai raja Blambangan yang bebas dari kekuasaan Mataram dengan gelar Susuhunan Blambangan.
Versi lainnya, dalam babad Tawangalun dituliskan Mas Kembar adalah bapak dari raja Tawangalun.            Selama menjadi raja, Tawangalun mendirikan istana besar bernama Macanputih. Nama kerajaan ini tetap hidup hingga sekarang dan menjadi Desa Macanputih. Konon, nama Macan Putih adalah kendaraan Tawangalun,yakni seekor harimau putih. Harimau ini diyakini sebagai penjelmaan guru spiritual Tawangalun.
Ceritanya, setelah perang saudara dengan adiknya, Mas Wilo, Tawangalun merasa menyesal. Setelah membunuh adiknya, Tawangalun bersemadi di hutan Rowo Bayu, Songgon. Kala itu, bangsawan ini mendapat wangsit diminta berjalan ke arah timur laut. Saat bersamaan munculah seekor harimau putih. Sesuai petunjuk, Tawangalun diminta menaiki harimau itu.
Begitu naik, harimau tersebut membawanya ke arah timur laut dan menghilang di daerah Kabat. Tempat menghilangnya harimau itulah kemudian didirikan istana bernama Macanputih. Konon, istana itu dibuat oleh Kongco Banyuwangi selama 5 tahun 10 bulan. Tinggi benteng istananya diperkirakan mencapai 3 meter dengan lebar 2 meter. Kehebatan benteng Macanputih masih bisa ditemukan hingga sekarang. Ukuran batu merah yang digunakan mencapai 30×20 cm berbahan batu cadas putih. Sejumlah benda peninggalan zaman itu juga banyak ditemukan di sekitar lokasi.
Sejarawan Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, Sri Margana menjelaskan nama Tawangalun berkaitan dengan kerajaan Blambangan yang juga rangkaian dari Majapahit . Sesuai silsilahnya, Blambangan pernah berpindah sebanyak 7 kali. Pertama di bangun di sekitar Pasuruan, Jawa Timur. Karena terjadi pemberontakan, pusat kerajaan pindah ke Macanputih, Kabat dengan raja Tawangalun II. Dahulu desa Macanputih dikenal dengan nama Sudiamala. Dijelaskan, kerajaan Prabu Tawangalun II ini dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa. Kerajaanya berjaya selam 36 tahun, periode 1655-1691. Setelah rajanya wafat, kerajaan ini hancur dan berubah menjadi kerajaan kecil di bawah kekuasaan Bali.
Menurut buku yang ada di perpustakaan Leiden, raja Tawangalun II meninggal pada 25 Oktober 1591 dan diaben dengan upacara besar. Dari 400 permaisurinya, 270 diantaranya mengikuti upacara bakar diri bersama sang raja. Pusat Kerajaan Blambangan di Macanputih memiliki luas 4,5 kilometer persegi dengan jumlah pasukan 36.000 orang dan pelayan kerajaan sebanyak 1000 orang.
Istana Macanputih diyakini sempat berpindah tiga kali. Pertama di daerah Wijenan, Keblak dan Lateng. Tiga daerah ini terletak di lereng timur laut gunung Raung. Kini, ketiganya berada dalam dua wilayah kecamatan, Rogojampi dan Kabat. Selain sakti, Prabu Tawangalun dikenal dengan sifat religiusnya. Raja ini mangkat tanggal 18 September 1691. Kemudian diaben tanggal 13 Oktober 1691 di plecutan dalam istana Macan Putih. Sebelum meninggal, Prabu Tawangalun sempat meminta bantuan Belanda dari serangan Untung Suropati dari Pasuruan, Jawa Timur.
Kala itu, Pangeran Puger dari Mataram bersama Untung Suropati berniat menaklukan Blambangan. Merasa terancam Tawangalun meminta bantuan kekuatan Belanda. Tanggal 14 September 1961, dua utusan Belanda, Jeremeas Van Flit dan Van Sen tiba. Namun empat hari berselang, Prabu Tawangalun keburu meninggal. Setelah itu, Macan Putih diserang Mataram dan hancur. Versi lainnya, hancurnya kerajaan Macan Putih karena terkena lahar api letusan gunung Raung. Sejak itulah, istana itu diwariskan ke sisa keturunan Tawangalun. Dari keturunan itulah, nama Banyuwangi yang akhirnya menjadi wilayah kabupaten ujung timur Jawa muncul.
Dalam catatan sejarah, Blambangan dikenal paling kuat mempertahankan kekuasaan. Tercatat lebih dari tujuh serangan besar dari kerajaan lain menyerang Blambangan. Seluruhnya berhasil dipukul mundur. Serangan paling besar datang dari penguasa Mataram. Bali juga sempat melakukan penyerangan ke Blambangan. Namun akhirnya berdamai. Selama mempertahankan kekuasaan, Blambangan selalu mendapat dukungan dari raja-raja di Bali. Karena itu, Banyuwangi sampai sekarang memiliki ikatan historis dengan Bali.
Berkumpulnya Pengikut Kejawen
Sisa peninggalan zaman Prabu Tawangalun banyak tersebar di Desa Macanputih, Kecamatan Kabat. Sayangnya, situs purbakala itu banyak yang hancur. Bahkan punah tanpa bekas. Sedikitnya, ada tiga lokasi yang masih bisa dirasakan nuansa kerajaan. Masing-masing Watu Ungkal, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan. Ketiganya berada di areal Desa Macanputih.
Watu Ungkal dipercaya bekas tempat mengasahnya senjata saat membabat hutan sebelum mendirikan kerajaan Macanputih. Di tempat ini ditemukan batu berukuran besar. Watu dalam bahasa Jawa disebut batu, sedang ungkal berarti mengasah. Mangkuto Romo adalah tempat meditasinya raja Tawangalun. Di tempat ini sekarang didirikan sebuah balai besar. Sanggar Pamujan diyakini tempat bersembahyangnya para keluarga kerajaan. Di lokasi ini dibangun sebuah tempat mirip situs kuno.
Hampir seluruh bekas keraton Tawangalun berada di Desa Macanputih. Banyaknya situs yang ditemukan sebagai bukti kebesaran kerajaan ini. Warga di Desa ini sejak dulu sering menemukan benda-benda kuno. Seperti patung, perabot rumah tangga,bahkan bekas kereta. Sayangnya, tak satu pun yang peduli merawatnya. Kebanyakan begitu ditemukan langsung dijual atau dikoleksi sendiri secara diam-diam.
Dari sejumlah situs, Mangkuto Romo dan Sanggar Pamujan paling sering dikunjungi warga. Terutama para pengikut Kejawen atau filosofi Jawa kuno. Dua lokasi ini dipercaya masih memiliki kekuatan supranatural tinggi. Hari-hari tertentu, dua lokasi ini banyak diserbu warga. Apalagi jelang pesta demokrasi kemarin. Para caleg berebut mendatangi tempat ini untuk meminta berkah.
Sanggar Pamujan terletak di tengah perkebunan tebu. Lokasinya cukup terpencil dari perkampungan warga. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat hingga ke lokasi. Meski tergolong situs, Sanggar Pamujan masih berstatus tanah pribadi. Luasnya sekitar 30 m2.
Lokasi tersebut sering dikenal dengan istilah Petilasan. Tempat ini pertama kali ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, salah satu pejuang Banyuwangi, Kopral Mustareh sedang melakukan penyerangan melawan Belanda. Keajaiban muncul ketika pejuang ini mulai terdesak. Sesosok orang aneh muncul melindungi Mustareh dari serangan meriam Belanda.
Merasa dilindungi, Mustareh menjadi penasaran. Dia pun mencoba berkenalan dengan orang aneh tersebut. Saat didekati, orang tak dikenal itu mengaku dari Banyuwangi, tempatnya di tengah hutan dan terdapat pohon mlinjo tua.Usai berkata tersebut, orang tak dikenal itu langsung menghilang.
Pulang dari berjuang, Mustareh mencoba mencari lokasi yang dimaksud. Setelah bermeditasi, ditemukanlah dua pohon mlinjo besar dan tua. Di sekitar lokasi ditemukan tumpukan bata mirip tembok istana dan sebuah lempengan batu menyerupai tempat duduk. Di tempat ini akhirnya dibuat tanda petilasan. Di sekitar lokasi terdapat beberapa pohon mlinjo berusia ratusan tahun. Anehnya lagi, ada sepasang pohon berbeda, beringin dan kemuning yang dahannya menyatu. Konon, pohon ini berkasiat menyatukan hubungan suami istri yang terpisah.
Petilasan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1964. Awalnya, di atas lempengan batu ditempatkan sebuah mahkota terbuat dari tanah liat. Di sekilingnya dibangun atap berbentuk segi enam. Tahun 1981, petilasan diperlebar dengan berdirinya bangunan lebih besar. Lantai petilasan juga dikeramik. Sejak itulah, petilasan Tawangalun menjadi terkenal.
Pengunjung datang dari berbagai daerah. Seperti Bali, Lombok, Flores dan kota-kota besar di Jawa. Warga luar negeri dari Malaysia dan Australia juga sempat berkunjung. Biasanya, mereka menggelar ritual meditasi dan renungan suci. Khusus umat Hindu Bali, mereka datang saat hari raya Galungan dan Kuningan. Pengunjung kebanyakan datang pada malam hari. Juru kunci petilasan tidak membatasi mereka yang berkunjung. “ Ini terbuka untuk umum, syaratnya tidak boleh membuat keributan,” ujar Nurudin yang juga juru kunci generasi ke-3 ini.
Menariknya, meski ramai pengunjung, petilasan tersebut tidak diberikan penerangan lampu. Alasannya kata Nurudin, itu sesuai petunjuk dari eyang Tawangalun. Dia mengaku susuhan (panggilan Tawangalun),tidak berkenan petilasan tersebut diberikan lampu. Secara kenyataan, jika petilasan tersebut diberikan lampu akan mengundang bahaya. Lokasinya yang sepi menjadi sasaran empuk orang jahat.
Selain petilasan, beberapa peninggalan lainnya juga kerap kali didatangi pengunjung. Sayangnya, hingga kini belum ada kepedulian Pemkab Banyuwangi untuk menjadikan lokasi sejarah itu menjadi obyek wisata. Sementara ini, pengunjung hanya mengetahui dari kelompok mereka masing-masing.
Kebesaran Tawangalun tak hanya terlihat dari petilasannya. Zaman penjajahan Belanda, daerah ini menjadi pusat batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR) warga Banyuwangi. Nama bataliyon itu adalah Macanputih, disesuaikan dengan bekas kerajaan Macanputih yang terkenal. Konon, bataliyon ini paling sulit ditaklukan Belanda dan Inggris.
Untuk mengenang perjuangan bataliyon tersebut di beberapa sudut Desa Macanputih berdiri sejumlah monumen bataliyon di bawah pimpinan Letkol. R. Ahmad Rifai itu. Termasuk beberapa tembok yang menandakan batas dari keraton Macanputih. Beberapa perabot kuno berbahan keramik juga dipajang dalam monumen. Sayang, berdirinya monumen itu belum bisa diterima warga setempat. Sejumlah bangunan monumen sempat dirusak  warga. Seluruh monumen ini didirikan oleh para pemerhati budaya dan sejarah Blambangan yang tergabung dalam tim independen Banyuwangi.
Moksa di Rowo Bayu
Peninggalan Tawangalun yang paling terkenal adalah Rowo Bayu. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi bersemadi Prabu Tawangalun sebelum mendirikan keraton Macanputih. Rowo Bayu adalah danau kecil di puncak bukit di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, sekitar 80 km arah barat daya kota Banyuwangi.
Kawasan ini menyimpan sejuta kekuatan magis. Selain di tengah hutan, tempat ini memiliki empat mata air suci. Masing-masing, sumber Kaputran, Dewi Gangga, Kamulyan dan Sumber Ratu. Letaknya persis di atas danau Rowo Bayu. Konon, mata air suci ini muncul selama Tawangalun melakukan semedi dan moksa di tempat itu.
Dari sekian mata air, sumber Kamulyan yang paling disucikan. Mata air ini muncul langsung dari bongkahan batu. Letaknya di samping batu petilasan tempat bersemadi Prabu Tawangalun. Zaman dahulu, mata air ini digunakan menyucikan diri sebelum melakukan semadi. Menurut cerita, sumber Kamulyan pertama kali ditemukan sesepuh Desa Bayu, Mbah Sudirjo, sekitar tahun 1960-an. Kala itu, muncul tulisan emas di atas mata air tersebut.
Rowo Bayu ditetapkan sebagai salah satu obyek wisata oleh Pemkab Banyuwangi. Kini, kawasan di tengah hutan pinus tersebut dipermak menjadi kawasan wisata alam dan spiritual. Petilasan Tawangalun juga dibangun mirip sebuah candi. Tempat ini menjadi jujugan para pencari spiritual dari berbagai daerah.
Wisata Rowo Bayu dulunya berupa rawa dan hutan bambu. Baru sekitar tahun 1960, daerah ini mulai dijamah warga. Sebelumnya, daerah tersebut menjadi kawasan angker. Sejak dibabat warga, sudah dua juru kunci yang merawat kawasan Rowo Bayu. Pertama, perangkat desa setempat menunjuk juru kunci perempuan. Namun hanya bertahan tidak lebih setahun. Kemudian mengundurkan diri.
Kemudian dilanjutkan oleh dua juru kunci laki-laki, Mbah Saji (70) dan Jimis (72), keduanya warga setempat. Sayangya, mereka lupa tahun berapa mulai mengabdi menjadi juru kunci. Ada pengalaman menarik ketika mbah Saji pertama kali masuk Rowo Bayu. Kala itu, dia mendengar suara tangisan dari arah atas mata air. Merasa curiga, pria lanjut usia ini mendekat. Begitu dilihat, dia mendapati mata air suci itu dipenuhi batang bambu. Saking kotornya, hampir menyerupai air rawa.
Merasa terpanggil, mbah Saji dengan suka rela membersihkan tempat tersebut. Selama 45 hari, pria ini bekerja sendirian membersihkan mata air itu. Beberapa bulan kemudian, satu warga lainya, Jimis terusik hatinya. Pria ini pun ikut merawat dan membersihkan sekitar mata air. Termasuk seluruh kawasan Rowo Bayu.
Perjuangan mbah Saji dan Jimis membuahkan hasil. Sejak itu, Rowo Bayu mulai tertata. Penataan Rowo Bayu bertambah ketika Banyuwangi dipimpin Bupati Samsul Hadi, tahun 2000 silam. Kawasan ini resmi dijadikan obyek pariwisata. Selain petilasan Tawangalun, Rowo Bayu dikenal dengan perang puputan Bayu, tahun 1771. Kala itu, pejuang Blambangan berperang habis-habisan melawan Belanda. Peristiwa heroik ini menjadi cikal bakal lahirnya kota Banyuwangi.
Pembangunan Rowo Bayu mulai nampak tahun 2004. Para pemerhati budaya dan sejarah mendirikan petilasan di sekitar batu semadi Prabu Tawangalun. Tahun 2005 lalu, Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari membangun petilasan dengan bahan keramik. Terakhir pembuatan candi di lokasi petilasan dan pura tahun 2007 kemarin. Bahannya terbuat dari batu gunung. Pura di Rowo Bayu diberi nama Pura Puncak Agung Macan Putih. Peristiwa gaib muncul ketika petilasan di bangun. Batu bekas semadi Tawangalun tidak bisa dipindah. Setelah dilakukan ritual, batu berbentuk lempengan itu bisa dipindahkan. Kejadian aneh lainnya, patung Tawangalun yang sedianya diletakkan di pura, ternyata tidak bisa dipindah. Sampai sekarang patung tersebut tetap berada di tempatnya semula di bawah hutan bambu dan sebuah pohon tua bercabang dua.
Sama dengan petilasan lainya, pengunjung petilasan Rowo Bayu kebanyakan pengikut kejawen. Rata-rata mereka ingin mendapatkan mukti dan ngalap berkah di tempat tersebut. Mereka yang datang kebanyakan warga dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali. Sejak berdiri pura, warga dari Bali sering tangkil ke tempat itu. Terutama saat hari raya Kuningan. Berdirinya pura ini pun tidak luput dari wangsit yang diterima juru kunci setempat. Begitu pula lokasi berdirinya pura.
Mbah Saji menuturkan petilasan Tawangalun bisa dijadikan tempat mencari jati diri. Ditambah lagi terdapat tiga mata air suci yang bisa memberikan pencerahan. Menurutnya, menjadi manusia hanyalah bertugas sebagai pengabdi. Dari sinilah kata dia mukti atau moksa bisa dicapai dengan mudah. Dari filosofi itu, pria ini rela mengabdi menjadi juru kunci petilasan tanpa mendapat gaji. Untuk kebutuhan sehari-hari, dia bersama istrinya membuka warung kopi di dekat lokasi.
Menurutnya, nama Tawangalun memiliki makna mendalam. Tawang artinya pikiran yang luas, sedang Alun berarti samudera. Nama Tawangalun diartikan sebagai kepribadian yang memiliki pikiran luas layaknya samudera. Alasan inilah yang menjadikan mbah Saji tanpa pamrih menjadi abdi dalem petilasan. Dia bersama Jimis bertekad mengabdikan sisa hidupnya untuk merawat petilasan itu. (Budi Wiriyanto/http://www.sejarahbanyuwangi.com)

gebyar
























sejarah kota palembang


 SEJARAH KOTA PALEMBANG
 

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

* Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan.
* Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
* Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya.Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pemimpin mereka.Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran jika toko sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak laut ini. Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah menangkap toko bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung ditengah pasar ibukota. Namun beberapa toko bajak laut di lautan cina seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang yang disegani di Palembang. Chiang Lien sebagai pengawas perdagangan untuk cina. sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang Cina di Palembang hampir 200 tahun.

MASA KESULTANAN

Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina du Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang.Para pengikut Aria Jipang ini membuat ketakutan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di komplesk PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri.Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya. Terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palemban, memutus hubungan ideologi dan kultural ddengan pusat kerajaan di Jawa (Mataram). Dia menyatakan dirinya sebagai sultan, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahma, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706). Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurang ajaran hasil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdangangan).Sultan Mahmud Baaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757) adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lembang (Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang). Selain itu dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang. Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu - Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada ditangan Sultan yang berkuasa).

Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina du Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang.Para pengikut Aria Jipang ini membuat ketakutan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di komplesk PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri.Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya. Terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palemban, memutus hubungan ideologi dan kultural ddengan pusat kerajaan di Jawa (Mataram). Dia menyatakan dirinya sebagai sultan, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahma, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706). Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurang ajaran hasil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdangangan).Sultan Mahmud Baaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757) adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lembang (Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang). Selain itu dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang. Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu - Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada ditangan Sultan yang berkuasa).

Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dn terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan. Kemungkinan perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya.Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertananannya. Ini dibuktikannya oleh Sultan Muhammad Bahauddin mendirikan keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.

Masa Belanda

Palembang sebagai Ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat dibawah pemerintah kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotanya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, dizaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir. Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis. Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari jawa - Kawi yang berarti : barang katanya, diturut, diindahkan.Setiap guguk mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip. Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengahan di Eropa. Contoh nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana paramiji dan alingan(struktur bawah dari golongan penduduk kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pimpinan (guguk) yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang di-alingi/dilindungi). Hasil produksi ini merupakan pula income bagi sultan dan kesultanan.Contoh lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk, yaitu : kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah perajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan.Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitar Mesjid Agung.

Demikian pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun kebumen yaitu tempat tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali.Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk harus dipecah belah. Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus memcah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tuduk pada administrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang. Demang adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di seberang ilir dan 16 kampung di seberang Ulu. Kampung-kampung ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk seberang ilir, sedangkan seberang ulu dari 1 sampai 16 ulu.Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah, dimana 29 kampung berada diseberang ilir dan 14 kampung berada di seberang ulu.

Dapat diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan bukannlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak kepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung.Oleh karen Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri. Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana begi kedudukannya.Pemerintah Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu pemerintahan kota yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintah kota ini adalah Haminte. Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk kota.Sebenernya pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas para pengusaha.
Di Era Zaman Jepang

Dizaman penduduk Jepang (1942-1945), secara struktural tidak ada perubahan kedudukan kepala kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah, yaitu menjadi Ku - Co dan mereka dibawah koordinasi Gun - Co. Tugasnya dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang. Untuk merapatkan barisan dikalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem lingkungan Jepang, Tonari - Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari - gumi dipimpin oleh seorang Ku - Mi - Co (Ketua RT).
Kegiatan Pembangunan yang Menonjol

Masa Kerajaan Sriwijaya

Pusat pemerintahan dan pemukiman terletak di bagin barat kota Palembang. Bentuk pembangunan yang dilakukan berupa :

1. Tata ruang dan saluran air serta pengurukan dan penimbunan daerah rawa (di Kelurahan Karang Anyar, kelurahan Bukit Lama dan Kecamatan Seberang Ulu I), baik bentuk istana, pemukiman warga maupun tempat ibadah.
2. Bangunan tempat ibadaha berupa Vihara dan kelengkapannya.
3. Pembangunan pelabuhan, serta sarana Transportasi.
4. Pembangunan Istana serta rumah-rumah tempat tinggal penduduk, baik diatas daratan, maupun di atas sungai berupa rakit dan rumha bertiang di atas rawa.
5. Pembangunan industri antara lain industri manik-manik di Ilir Barat.
6. Pembangunan Taman Srisetra dibagian barat kota (Prasasti Karang Tuo).

Masa Kesultanan Palembang

Pusat pemerintahan pada awal kebangkitan, di bagian timur kota palembang (di sekitar PT. PUSRI dan Kelurahan I Ilir). Kemudian setelah hampir satu abad pindah ke bagian tengah di Kelurahan 19 Ilir, bentuk pembangunan yang dilakukan berupa :

1. Keraton/Istana Kuto Gawang (PT Pusri I Ilir), Kuto Lamo dan Kuto Besak (Kelurahan 19 Ilir).
2. Benteng pertahanan (pemasangan lantai di Sungai Musi untuk menghalangi kapal musuh).
3. Mesjid (di I Ilir, Beringin Janggut dan Mesjid Agung 19 Ilir).
4. Pelabuhan dan tempat penambatan angkutan sungai.
5. Makam raja-raja Palembang.
6. Penataan tata ruang kota (seperti Kepandean, Sayangan, Kebumen, Depaten).
7. Pembangunan oleh masyarakat (klenteng, rumah limas, industri rumah tangga tenunan, ukiran, dll)

Berdasarkan catatan pelaksanaan pembangunan kota yang berencana baru di mulai pada awal terbentuknya pemerintahan kota di tahun 1900-an, seperti dibawah ini :

1. 30 September 1918 Pemerintah Kota menetapkan tentang pendirian dan pembongkaran bangunan, yaitu Verordening op het bouwen en sloopen in de Gemeente Palembang.
2. 1935 diterbitkan Bouwverordening der Gemeente Palembang berupa Standsplan (Rencana Tehnik Ruang Kota), yang kemudian dengan diterbitkannya peta rencana, peta situasi atau peta penggunaan tanah (detail plan).

1906 - 1935


Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kota Palembang antara 1906-1935 adalah sebagai berikut :

* Pembelian lapangan-lapangan untuk menimbun bahan bangunan.
* Pembuatan Jembatan Sungai Ogan.
* Perbaikan Jalan Seberang Ulu dari Ogan ke Plaju melalui 10 Ulu (Jl. KH. Azhari).
* Pembuatan medan lalu lintas dekat 10 Ulu dan Tengkuruk.
* Menyediakan lapangan-lapangan untuk lanjutan jalan kereta api Sum-Sel dari Kertapati ke Seberang.
* Menyediakan Lapangan pelabuhan di Seberang Ulu.
* Pendalaman alur sungai Musi.
* Perbaikan jalan dengan pembuatan jalan - jalan tembus dan pelebaran jalan antara Pelabuhan Tengkuruk - talang Jawa; Jl. Gevangenis (Jl. Lembaga Pemasyarakatan) - Boom Baru.
* Perbaikan tempat-tempat berlabuh untuk kapal-kapal sungai di 19 Ilir ( Pelabuhan/ponton).
* Penyediaan tempat transit yang mendesak dari Kertapati (titik ujung jalan kereta api Sum-Sel) yang dapat dicapai oleh kapal-kapal laut, yang mengambil batubara dari tambang bukit asam.

3. Realisasi stands plan (Master Plan Kota) Kota Palembang. Ini adalah penetapan lokasi-lokasi :

1. Industrial estate di daerah Sungai Gerong dan Plaju.
2. Real Estate di Talang Semut.
3. Sistem Ring and Radial bangunan jalan kota (yang saat itu baru sampai di Talang Grunik sebagai lingkar II) Jl. Kapten Arivai dan Jl. Veteran sekarang).

1935 - 1950


Jepang

1. Perubahan bayas kota dengan memasukkan pelabuhan udara Talang Betutu ke dalam Administrasi Kotapraja.
2. Pembangunan jalan By Pass dengan nama jalan Miaji (Jl. Jend. Sudirman).
3. Pembangunan landasan pesawat udara :

* Pembangunan Pelabuhan Udara di Betung.
* Lapangan terbang di Talang Balai.
* Perbaikan pelabuhan laut di kota Palembang.
* Pembangunan lapangan Pesawat Udara di Sungai Buah.
* Perluasan lapangan udara talang Betutu (SMB II).
* Pembukaan jalan yang dimulai dari Simpang Mesjid (Simp. Jl. TP. Rustam Effendi) sampai ke simpang Charitas (Jl. Jend. Sudirman).
* Perbaikan dan pelebaran serta pelurusan Jl. Ke Talang Betutu (Jl. Kol. H. Burlian).

1950 - 1960

1. Pembangunan Pasar :

* Lingkis (Cinde)
* Kertapati
* Lemabang
* Buah (Jl. Kol. Atmo/Tp. Rustam Effendi)
* Kuto.

2. Perumahan Rakyat :
Sungai Buah dan Talang Betutu

3. Air Bersih : Perluasan Penyaringan
Pemasangan pipa induk, dari penyaringan ke Jl. Jend. Sudirman
Pipa Suro, Tangga Buntung - Ladang Plaju - Rimab Seru
Pemasangan pipa 270 Km
Peningkatan produksi menjadi 23.000 m3/hari

4. Pembangunan jalan lingkar I, Jl. Jend. Sudirman ke Simpang Cinde Welan

5. Panjang jalan dalam kota 225 Km

6. Penimbunan Musi Boulevart

7. Perumahan Proyek Khusus Kebangkan (PCK)

8. Pembebasan tanah peruntukan :

* Daerah Indusri PT. Pusri
* Universitas Sriwijaya
* Traffic Garden di Bukit Besar

9. Pembangunan Balai Pertemuan di Jl. Sekanak.

10. Pembangunan Stasion Kamboja.

11. Pembuatan Kanal (terusan) Sungai Bendung.

12. Pembangunan Penyebrangan Tangga Buntung - Kertapati.

13. Pembukaan jalan Tangga Buntung ke Gandus.

1960 - 1970

1. Pembangunan Jembatan Musi (Jembatan Ampera) April 1962 - Mei 1965

2. Perbaikan Kampung

3. Pembangunan sekolah dasar

4. Pembangunan Perumahan Pegawai di Jalan Duku (Sumur Batu), Jl. Makrayu dan PCK

5. Pemugaran Makam Raja-raja Palembang, Rumah Bari

6. Peningkatan Kebersihan

7. Terminal Bawah Jembatan Ampera

8. Pertokoan Tengkuruk By Pass (Permai)

9. Pasar 10 Ulu

10. Pemekaran kampung 20 Ilir jadi 4, 26 ilir jadi 2, Sungai Batang dibagi dengan Sungai Selincah

1970 - 1980

Sasaran pembangunan : Jalan, Air Bersih, Listrik dan Kebersihan. Pembangunan Proyek Non Bujeter :

1. Sumbangan Pertamina
Upgrading Jalan dalam Kota :

* 1969/1970 Jalan Utama Veteran, Harapan, Jl. Jend. Sudirman dan Jl. Jend. A.Yani (aspal beton).
* 1970-1971 Jalan-jalan dalam kota di lebarkan menjadi lebar rata-rata 8 m.
* 1973-1974 Upgrading jalan dalam kota.
* 1975-1976 Jalan-jalan di sekitar Pasar 16 ilir.

2. Sumbangan dari PT. PUSRI
3 buah jembatan penyebrangan pejalan kaki di jalan Jend. Sudirman.

3. Makmur Store
Menyumbang 1 buah jembatan penyebrangan jalan di Jl. Jend. Sudirman

4. 1975 - 1978 perusahaan-perusahaan industri menyumbang 16 buah Shelter Bus.

5. Pembangunan petak-petak pasar secara swadaya masyarakat, peremajaan dan modernisasi pasar atau pusat perbelanjaan.

6. 1974 pembangunan gedung pusat pemerintahan Kotamadya. Penetapan hari jadi kota Palembang.

7. Sasaran pembangunan diarahkan pada pembangunan sistem drainage (Pengeringan Kota)

Pembangunan Sistem Makro dan Sistem Mikro

Sistem Makro : meliputi Saluran induk dengan memanfaatkan sungai-sungai dan kolam-kolam (Retention Basin).

Sistem Mikro : Meliputi saluran-saluran pengumpul dari daerah-daerah aliran ke saluran-saluran utama dan kesaluran induk.

Tahap Pelaksanaan :

1. Program mendesak

* Pembersihan sungai Bendung dan Sungai rendang.
* Pembuatan/peningkatan saluran-saluran primer, siring-siring dan koker-koker.

2. Program Jangka Pendek

* Normalisasi Sungai Sekanak, sungai bendung
* Peningkatan/pembuatan saluran primer dan saluran sekunder antara kedua sungai tersebut.

3. Program Jangka Menengah

* Perancangan detail dan pelaksanaan di wilayah lingkaran II
* Normalisasi sungai-sungai, peningkatan /pembuatan saluran-saluran primer and sekunder.

4. Jangka Panjang

* Lanjutan Studi dan perancangan sistem drainage secara keselurahan.
* Perbaikan dan normalisasi sungai rendang.
* Survey design sungai-sungai di daerah Seberang Ilir.
* Rehabilitasi anak sungai Bayas.
* Program Perbaikan Kampung (Kampong Improvment Program).

1979 - 1980

Untuk Kampung 9,10,11,13,14 ilir dan 1 ulu, dengan luas areal 40 ha untuk penduduk 30.210 jiwa. 1981 - 1982

Untuk Kampung 1,2 ulu, 13,14, 19, 22, 26, 26, 27 dan 28 ilir, dengan luas areal 80 ha untuk penduduk 41.654 jiwa.

1982 - 1983

Untuk Kampung 8,9,10,11,24,26,29,30dan 32 ilir, dengan luas areal 125 ha untuk penduduk 75.358 jiwa.

1983 - 1984

Diusulkan untuk Kampung 35 ilir, 3, 4, 5, 7 ulu, kertapati dan ogan baru dengan luas areal 75 ha untuk penduduk 99.126 jiwa.

Dalam realisasinya perbaikan kampung dilakukan pada kelurahan 29, 30, 32, 35 ilir, 3/4, 5,7 dan 8 ulu.
1984 - 1985

Untuk Kelurahan 3/4, 5,7,11,12 ulu, kertapati dan Ogan Baru.

1986 - 1987

Untuk kelurahan karang anyar, 36, 35, 32 ilir, 8, 11, 12, 13, 14 ulu, dan Tangga Takat.

1987 - 1988

Untuk kelurahan 2, 3, 5 ilir, dan 13, 14 ulu. Bentuk pembangunan KIP ini antara lain :

Jalan Lingkungan (aspal), Konstruksi Ris Beton, Konstruksi jembatan beton, kran air minum, MCK, Bak sampah, Gerobak Sampah, Buis Beton, SD Bertingkat, Puskesmas.

1981
Pembangunan kembali daerah yang terbakar dikampung 22, 23, 24 dan 26 ilir denagn areal site seluas 236.078 M2 dengan bangunan rumah flat 4 lantai, pelbagai tipe sebanyak 3.584 Unit lengkap dengan prasarana dan fasilitas lingkungan dan 214 kapling tanah siap bangun.

Pembebasan Tanah

Untuk rencana pemindahan terminal bawah jembatan Ampera Seberang Ilir ke wilayah seberang ulu baik untuk terminal Penumpang maupun unutk barang ± 8 Ha.

* Pembangunan taman-taman kota.
* Pembangunan jalan dengan sistem Ring dan Radial sesuai Peta 1930.
* Peningkatan Kebersihan dengan Pemantapan Program PALEMBANG KOTA BARI.
* Panjang Jalan dalam kota = 282.290 Km, terdiri dari :
Jalan Arteri = 61.220 Km
Jalan Arteri Sekunder = 58.752 Km
Jalan Kolektor dan lokal = 162.418 Km

Penambahan dan Pembukaan Ring dan Radial

1. Jalan Radial soak Bato ke Jalan kapten Arivai.
2. Jalan Lingkungan II dari Jl. Letkol Iskandar tembus ke Jalan segaran.
3. Jalan Radial dari Lingkaran I tembus ke Jalan Veteran.
4. Jalan Lingkaran Luar dari Gandus Ke Macan Lindungan, Jl. Demang lebar daun.

Jumlah jembatan yang ada di kota Palembang sebanyak 116 buah, terdiri dari :

1. Jembatan beton 80 buah
2. Jembatan Besi 7 buah
3. Jembatan kayu 29 buah

Pembangunan permukiman Kenten Sako, Polygon dan rumah susun. Drainage

* Sejak 1980 - 1987 dibangun saluran sepanjang 333.671 Km, tersebar dari jalan Kapten A. Rivai ke arah Sungai Musi dan Daerah Seberang Ulu.
* 1987 - 1988 dibangun proyek pengeringan kota sepanjang 7.740 Km untuk lokasi di Kecamatan Ilir Barat I dan Ilir Timur I.
* 1988 Sumatera Selatan ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Wisata ke - 17. Kota Palembang sebagai ibukota Propinsi menjadi Daerah Utama yang dijadikan sasaran pembangunan kepariwisataan. Obyek wisata yang ditonjolkan adalah wisata air dan budaya.

1990 - 1999

* Pembangunan RSUD dan Jalan Menuju Ke RSUD
* Jalan Keramasan - Musi II - Macan Lindungan
* Jembatan Musi II
* Jalan Mas krebet
* Jalan Kebun Bunga
* Jalan Tembus Jalan Sudirman ke Sako
* Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
*
* Reklamasi Seberang Ulu I
* Jalan Menuju tanjung Api-api
* Jalan tembus Jalan Jend. A. Yani ke Dusun Rambuatan
* Jalan Lingkar Selatan
* Jalan Gandus ke Jalan raya Palembang - Betung
* Jalan Musi II ke Pembuangan sampah Kelurahan Keramasan
* Jalan Tembus Jalan Macan Lindungan ke Jalan haji Burlian
* Pembangunan Pemakaman Kebun Bunga (Silk Air)
* Pembangunan Retaining Wall depan Benteng Kuto Besak









sampe sekarang banyak yang berkembang pembangunan di plembang....


2004 ado POn di Sumatera Selatan
2007 ado pembangunan stasiun kereta ke Unic. Sriwijaya di Inderalaya OI
sampe 2008 ado fly over di simpang polda

yang laennyo menyusul





Senin, 14 November 2011

sea games









romance of palembang


              Romance of palembang
Alkisah hiduplah seorang ibu yg berahlaq baik ia mempunyai dua orang putri tapi belum memiliki seorang putra sebagai penerus keluarga lalu ia mengajak sang suami bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan kerinduan kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang putra dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang penerus yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk be membuat-Mu bangga akan anak kami.
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan  dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama din Sang ayah sangat berbahagia  sebab din dicintai oleh semua orang, ia lucu jujur dan sangat setia  menjadi pusat perhatian dan dikagumani kawan.  Sejak itu tanpa disadari  din telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewanya, di usianya yg msh sangat kecil ia sudah berusaha untuk membantu keperluan rumah tangga setiap pulang sekolah din sering mencari ikan untuk lauk pauk keluarganya sehari hari,Ia punya bakat yang luar biasa dalam mempelajari seni dan berbagai hal tentang adat dan agama.
Tidak terasa din mulai menjadi seorang remaja tp ternyata din tidak bersemangat dgn pendidikan formal dia lebih menyukai dunia mistis dan kehidupan rohani. nasib siapa yg tahu din kemudian berjodoh  dgn seorang guru Thao yg tinggal di sebuah Vihara. Dengan sang guru yang amat bijaksana bagaimanapun ia menyadari din seorang muslim, tentu ada batasan  dlm kehidupannya. dan mulailah din hidup dlm dunia orang thionghoa. din mampu membaur tanpa ada rasa canggung disanalah ia mengengal seni china ilmu pengobatan dan bahasa china. Di antara mereka ada seorang anak perempuan yg bernama siska umurnya sekitar 6 tahun. sesuai dgn umurnya tentulah siska amat manja dan lucu dan seperti ada yg menggerakan hatinya ketika pertama kali ia bertemu din siskapun  seperti sudah mengenal din sejak lama iapun langsung minta di gendong dinpun kagek tp ia langsung menggendongnya ada sesuatu rasa sayang muncul dalam dada din ia merasa gadis kecil ini seolah ia pernah kenal saat itu usia din baru menginjak usia 17 thn.              
Tidak terasa beberapa thn telah berlalu siskamulai tumbuh menjadi gadis remaja yg manis rasa sayang din yg selama ini pada fung mulai berubah menjadi rasa cinta hampir tiap hari din berusaha mencari siska ada saja alasan din untuk itu. Siska pun senang kalau din mencarinya tp siska sepertinya belum mengerti tentang cinta yg ia tahu kalau dia senang ada din di dekatnya. tak terasa umur siska sudah 17 thn gayung pun bersambut din dan siska menjadi sepasang kekasih tp ternyata siska banyak rasa cemburu pacaran sama din karna begitu banyaknya wanita yg sering menemui din ternyata din seorang cowok yg popular pada zamanya tp cinta siska pada din mendapat tentangan orang tuanya.                                                           
Namun din sudah buta dan tuli pada yang lainnya sedikit demi sedikit orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di saat itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai wanita katolik dan warga keturunan begitu dekat dengan seorang lelaki pribumi tidak berpendidikan dan agak nakal lalu siska pun di pindahkan ke Jakarta agar jauh dari din, siska setuju dgn alasan itu semoga saja masing2 mereka akan menemukan pengganti begitulah harapanya..dinpun tak bisa berbuat apa apa
Ketika siska sudah jauh dari palembang  din menjadi sangat gelisah sehingga ia sering meninggalkan palembang dan menyelusuri kesunyian alam untuk merindukan kekasih  hatinya memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di tepian sungai. Ia berbicara dgn sekuntum bunga ia titipkan salam lewat angin yg berhembus ia khabarkan akan cintanya pada alam hatinya menjadi dekat dengan alam ia sangat mengerti bagaimana rasanya kepedihan hingga sehelai daunpun tak mau ia sakiti hatinya seolah dapat bicara dengan alam sehingga hewanpun mau mendekatinya kadang ketika ia sedang berzikir tupaipun ikut bersamanya bahkan ada hewan yg mengikutinya berjalan sampai puluhan kilo.
Akhirnya din mulai dikenal sebagai orang memiliki daya Linuwi tapi hidupnya selalu menyepi biasa ia duduk di tepian sungai kandis perbatasan rajabasa natar disamping tempat tinggalnya sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Kadang iaberberbisik kepada air, menghanyutkan kelopak bunga liar,  din merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada siska. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada siska serta memberitahunya bahwa ia berdiri menghadap kearah Jakarta di mana siska berada.
Bulan demi bulan berlalu dan din tidak menemukan jejak siska kerinduannyapun kepada siska kian membesar sehingga ia merasa tidak bisa hidup seharipun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang alam dan  tentang bathin, betapa ia sangat kehilangan dirinya tapi dia menyembunyikan duka itu pada sahabatnya. suatu hari din mendapat kabar bahwa sang guru ingin bertemu denganya ia segera pulang ke palembang din dapat melihat bagaimana suasana hati gurunya yg sedih melihat keadaan dirinya yg demikian lusu dan sang guru memberi nasihat padanya, “din pepatah china mengatakan ai ching te ku se siang nien ten an kuo sen se tien cu ting nan mien you cuo[cinta ada jalanya rindu ada penderitaanya manusia tidak bisah menghindari takdir]”
Selama di Jakarta siska mencoba menjalin hubungan dengan seseorang yg juga warga keturunan keluarganya setuju dengan hubungan itu tapi sayang cinta mereka kandas dan hilang begitu saja ibarat debu terhembus angin siska jalani hidup dengan kehampaan tapi ia wanita yg tegar dan selalu berusaha untuk menjalani hidup apa adanya sebagai seorang pegawai bank ternama di Indonesia. ada suatu hari ia pulang ke palembang tempat yg banyak menyimpan kenangan dlm hidupnya pada saat sore ia coba melintas ke Vihara yg dulu din sering berada di situ tp din tak terlihat batang hidungnya..
Pada hari ketika din merasa bahwa ada siska kembali ke palembang iapun segera bergegas pulang ke palembang,begitu sampai di palembang dengan uang yg pas pasan din membeli pakaian murah yg cukup bagus,agar tak malu bertemu pujuaan hatinya. tp sayang ketika din sampai ke kampung tempat tinggal siska,pagi itu siska sudah harus meninggalkan palembang kembali ke Jakarta aduhai..… alangkah kecewa hati din saat itu.
Ketika sang guru tahu tentang peristiwa itu dia memutuskan untuk
mengakhiri drama tersebut dengan maksud hati agar si murid dapat untuk bersama siska, Ia menyiapkan waktu yg tepat untuk membicarakan hal itu pada orang tua siska yg adalah sahabatnya sendiri dan saat yg sang guru nantipun tiba ia mulai menyinggung masalah itu tapi jawaban orang tua siska tidak yg seperti sang guru harapkan dan ia berkata,” andai kau pada posisiku bagaimana perasaanmu tentu kami menginginkan seorang yg cocok buat kami”  sang guru maklum dgn jawaban  itu tp tentang pembicaraan itu sang guru tidak pernah membicarakannya dgn din karna ia tahu tentu hanya menambah luka din saja. tp sebagai seorang yg berpikir bijak dia malah mengarahkan din untuk berusaha membangun diri dengan ilmu dan kekayaan karna seorang lelaki akan lebih berharga dengan dua hal itu dinpun beranjak pergi dengan iringan restu sang guru.

Empat tahun setelah itu din mulai menuai hasil ia sudah dapat menyimpan uang din bepropesi sebagai juru sembuh alternative.lalu ia disarankan agar segera menikah karma ibunya sudah berusia lanjut dan dinpun sudah berkepala tiga. saat itu din mulai bimbang apa lagi siska pun tak pernah ia dengar kabarnya  pada saat yg sama siska pun hidup dalam kegalauan setiap ada lelaki yg mendekatinya selalu gagal seolah langit tak pernah merestuinya. lalu saat din pun tiba ia di jodohkan dengan seorang gadis pribumi, begitu sulit din menjalani hidup tanpa cinta tapi ia tetap berusaha melakukan yg terbaik demi kebaikan semuanya.
Satu tahun setelah pernikahan itu din dapat menemukan siska lewat facebook dengan kerinduan yg lama terpendam obrolanpun sampai berjam jam. fung2 memberi din no telp bila ada waktu tentulah din menelpon. tp ketika din mulai mengarah ke hubungan mereka dan masa lalu mereka siska  selalu menghindar karna ia sadar din bukan lagi seoarang yg bebas dan ia utarakan alasan itu. hati din sangat menyesal mengapa dia harus menikah lebih dulu mengapa suratan nasib seolah mempermainkanya.
Perlahan tapi pasti din dan siska  terus berhubungan walau hanya via fb atau telp seluler din amat antusias dengan obrolan obrolan mereka lain halnya dengan siska  yg bisa menyimpan perasaanya ia lakukan itu untuk demi kebaikan rumah tangga din hingga pada suatu hari din menjelaskan bagaimana kehidupan cintanya bagaimana ia menunggu siska  dan diapun bercerita tentang rumah tangganya yang tanpa  kemesraan. hati siska  tersentuh airmatanya menetes mendengar kisah sang pencintanya yg begitu menderita karna kepergianya. Berhari hari siska  menyesali kepergianya ke Jakarta dan sangat menyesal mengapa ia harus membohongi perasaanya sendiri.
Adalah suatu hari yg sangat bersejarah bagi mereka berdua pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan imlek keduan pasangan ini bertemu mereka bersumpah mengikat janji setia dalam suka ataupun duka tanpa memikirkan perbedaan agama perbedaan ras siska  siap mengikuti din kemanapun sementara din mengurus perceraian dari rumah tangganya yg berantakan. sepuluh tahun cinta mereka tertundah akhirnya kembali menyatu pada hari yg tlah di tentukan sang maha pencipta.
 Pertemuan yg sesaat hanya ibarat gumpalan awan yg bila terhembus angin maka pecahlah gumpalan itu sebagian terbawa ke langit barat sebagian lagi mengembara jauh ke tenggara entah kapan awan awan itu akan kembali menggumpal hanya waktu dan takdirlah yg akan menentukanya tapi jika kesemua awan itu memang harus kembali menggumpal maka menggumpalah mereka walau pada langit yg berbeda.[begitu pula suratan nasib din dan siska setelah  jauh terpisah akhirnya menyatu kembali]     is true story….soo sweet..

pangeran batun

Pangeran batun
Pangeran Batun adalah salah seorang pejabat lokal yang secara kelembagaan berafiliasi pada kekuasaan kolonial Belanda. Ia berkuasa di Marga Sirah Pulau Padang Ogan Komering Ilir. Masa pemerintahannya berlangsung pada urutan ke delapan sepanjang masa pemerintahan Marga Sirah Pulau Padang. Gelar Pangeran di berikan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada seorang pejabat tertinggi dalam pemerintahan Marga. Pejabat ini sebelumnya di pandang banyak berjasa kepada pihak kolonial.
Meski terlihat sederhana, untuk menjadi seorang pangeran yang baik di mata kolonial, bukanlah suatu masalah yang mudah. Disamping harus terpilih menurut versi orang Eropa itu, pangeran haruslah berasal dari seseorang yang memiliki kekayaan yang banyak, memiliki “ilmu” yang tinggi, serta kelebihan-kelebihan lain seperti kekuatan fisik dan mental. Dengan keberadaan itu, tidak sedikit orang menjadi iri terhadap keberadaan seorang Pangeran. Hal ini menimpa pangeran Batun, bahkan sangat mempengaruhi jalan kekuasaannya.
Pangeran Batun mempunyai banyak kegemaran. Salah satu di antara kegemarannya ialah bermain judi dan menyabung ayam. Pada masa itu memang banyak pejabat yang beranggapan bahwa bermain judi dan menyabung ayam itu sebagai hiburan.
Pangeran suka membagikan uang yang di perolehnya dari hasil judi dan sabung ayam kepada rakyat, terutama kepada gadis-gadis cantik. Banyak gadis yang tertarik dengan sifat pangeran ini. Tidak sedikit pula yang bersedia menjadi istri Pangeran. Keadaan ini menjadi keadaan umum, apalagi dikaitkan dengan sifat sebagian orang yang menginginkan kelimpahan materi berupa uang, harta serta mengharapkan jabatan atau status sosial.
Dari sekian gadis yang banyak berminat, pangeran memilih empat orang sebagai pendampingnya. Mereka cantik-cantik, tetapi seorang diantara mereka yang pada akhirnya menjadi duri dalam nasib kekuasaan Sang Pangeran. Ada seorang istrinya yang berhati dengki, bersifat tamak, serakah dan rakus.
Seorang pangeran adalah pemegang tampuk pimpinan Marga. Gelar Pangeran, seperti disebutkan terdahulu diberikan kepada seseorang kepala Marga yang telah banyak berjasa kepada pihak kolonial. Gelar lebih tinggi dari pangeran, adalah Raden, sedangkan gelar setingkat di bawah pangeran adalah Depati. Ketiga gelar ini, tidak terdapat dalam ketentuan kitab undang-undang Simbur Cahaya. Kekuasaan Marga di Sirah Pulau Padang, tempat Pangeran batun telah terbentuk sejak sekitar tahun 1800, dan dibubarkan bersama seluruh Marga lainnya di Sumatra Selatan pada melalui SK Gubernur No. 142/KPTS/III/1983, yang ditetapkan tanggal 24 Maret dan berlaku sejak 4 April 1983 (Ahad, 20 Jumadil Akhir 1403.

Istri Pangeran Batun
Suatu ketika, untuk mengatasi kekalahan dalam taruhan judi, Pangeran Batun menghabiskan judi, Pangeran Batun menghabiskan seluruh perhiasan istri muda. Kejadian ini membuat si istri muda menjadi marah. Dalam kemarahan itu dari hari ke hari mulai panik dan mulai menunjukkan tabiatnya yang asli. Terjadilah perselisihan antara pangeran dan istri mudanya itu. Pangeran Batun dengan sekuat tenaga berusaha mengumpulkan uang dengan harapan dapat menenangkan hati istrinya, juga berusaha menebus kekalahan nya di meja judi. Akan tetapi si istri belum dapat di yakinkan.
Sedang giat pangeran berusaha mengumpulkan dana, terjadilah peristiwa hilangnya pandai emas. Perahunya hanyut dan terdampar di ujung anak sungai. Pemiliknya tidak ditemukan. Peristiwa hilangnya pandai emas ini menjadi cerita yang sangat menggegerkan masyarakat. Selama ini, kawasan dalam Marga Panjang sangat aman dan jarang sekali terjadi pencurian, apalagi penghilangan orang. Tetapi dengan hilangnya pandai emas, masyarakat mulai merasa was-was. Bahkan mulai tumbuh saling menduga dan prasangka buruk.
Pandai emas itu memang orang baru bagi masyarakat Marga Panjang. Ia datang jauh, yaitu dari kota palembang. Ia datang ketempat itu menjajakan emas dengan perahu berkeliling dari satu dusun ke lain dusun. Meski penduduk dusun-dusun pada waktu itu masih sepi, bahkan banyak yang belum bernama. Tapi keadaannya yang aman menjadikan pandai emas menjadi leluasa bergerak kesana kemari membawa dagangannya.
Peristiwa pandai emas hilang telah terdengar oleh pihak kolonial belanda. Penyelidikan mulai dilakukan dengan gencar, dengan mengusut seluruh warga yang ada di daerah itu. Setiap orang dewasa di usut satu persatu. Mereka di bujuk ataupun di siksa dan diperlakukan dengan berbagai cara agar di peroleh informasi tentang pelaku penghilangan pandai emas itu. Tindakan pengusutan tidak membuahkan hasil sama sekali. Tidak diperoleh tanda-tanda yang menunjukkan ada warga yang terlibat.
Penyelidikan terus berlanjut dengan cara yang semakin tidak terarah (ngawur). Kesempatan ini merupakan peluang dari istri muda PangeranBatun untuk menyampaikan informasi melalui surat kaleng yang menuduh Pangeran Batun. Disebutkan, pangeran Batun yang memerintahkan dua orang penjudi bernama Ajir dan Rambut untuk membunuh pandai emas dan membuangnya di dasar sungai. Untuk melengkapi informasi sehingga lebih meyakinkan, disuruhlah orang untuk mengumpulkan tulang sapi yang dimasukkan kedalam kaleng lalu di kubur di lubuk sungai.

Pengadilan Pangeran
Peristiwa penghilangan pandai emas, akhirnya dibawa ke meja pengadilan. Tuntutan di ajukan semakin melebar karena mempertimbangkan kondisi Marga panjang yang dipimpin oleh Pangeran Batun.
Ajir dan Rambut, dua penjudi yang ditimpa tuduhan sebagai pelaksana penghilangan pandai emas mulai mengalami siksaan fisik dan mental. Kedua kaki dan tangannya di ikat. Apalagi malam tiba, keduanya di tempatkan di hutan rawa-rawa (rawang) yang sangat banyak nyamuk sehingga tubuh keduanya dipenuhi dengan bintik-bintik merah bekas gigitan nyamuk. Siksaan ini selanjutnya ditingkatkan dengan memindahkan mereka kedalam ruangan yang penuh dengan asap ataupun api, tetapi tetap tidak mengaku. Sementara itu rambut, karena tidak tahan menanggung siksaan terpaksa mengakui tuduhan yang ditimpakan pada dirinya.
Kembali pada pangeran Batun. Dari pemeriksaan awal di peroleh kesimpulan

1. uang kas Marga telah kosong karena dipergunakan oleh pangeran untuk menutupi kekalahannya dalam berjudi;
2. pangeran telah memerintahkan membunuh Pandai emas, dengan bukti adanya tulang berulang yang diperoleh dari dalam sungai;
3. Pengakuan dari salah seorang tertuduh membenarkan keterlibatan pangeran sesuai tuduhan.

Setelah proses peradilan peadilan berlangsung dirumuskan “putusan sela” yang memutuskan bahwa “pangeran dihukum, jangan dilepaskan “ dan “ Digantung sampai mati”.
Seluruh harta benda pangeran Batun, termasuk rumah tempat tinngalnya disita dan dilelang dihadapan masyarakat umum. Rumah itu selanjutnya dibongkar dan dipindahkan ke samping benteng kuto besak di palembang yang kemudian di kenal umum sebagai rumah Bari. (menjelang tahun kunjungan wisata indonesia-visit indonesia year 1991 rumah itu di bongkar kembali dan dipindahkan ke kompleks permuseum palembang).

Mengajukan Banding
Putusan sela yang diputuskan pengadilan dirasakan sangat berat oleh pangeran, apalagi tidak disertai oleh bukti nyata. Tulang belulang yang di jadikan barang bukti, menurut keyakinannya adalah tulang-tulang sapi. Dengan mencucurkan air mata pangeran menolak keputusan pengadilan, dan mengajukan banding kelembaga pengadilan lebih tinggi di batavia (jakarta).
Dua orang lainnya, ajir dan rambut menuruti saja apa yang di putuskan pihak pengadilan. Mereka tidak bersekolah, dan masih sangat awam tentang seluk beluk hukum dan peradilan. Ajir yang tetap bertahan dengan pendirian tidak mengakui tuduhan ditimpakan kepada dirinya, dibebaskan dari tuduhan. Meski bebas, dalam keadaan sangat menderita akhirnya ia meninggal dunia. Sedangkan rambut di hukum masuk penjara di sawah lunto dengan masa hukuman selama 20 tahun. Beberapa tahun setelah hukuman berjalan, ia dipindahkan ke penjara nusakambangan sampai berakhir masa tahanan. Setelah kembali dari nusakambangan, Rambut telah sangat matang dan dewasa. Pada tangan kanannya di buat tato Anker (jangkar) yang di maksudkan sebagai simbol orang pernah mendapat hukuman berat. Dengan tanda itu dimaksudkan memudahkan orang mengenalnya bila ia melarikan diri, atau orang yang pernah menghuni penjara kelas tinggi .
Pangeran Batun, di bantu oleh pangeran Mat, mengajukan permohonan banding ke Batavia. Setelah di teliti lagi dengan cermat dan saksama, surat
permohonan banding pangeran batun dapat di terima dan di persidangkan.
Hasil persidangan memutuskan pernyataan bahwa pengajuan banding Pangeran diterima dan dibenarkan. Pangeran bebas dari hukuman gantung. Keputusan pada persidangan pertama pengadilan memutuskan “Pangeran dihukum, jangan dilepaskan” dan “Digantung sampai mati”. Setelah mengajukan banding serta permohonannya diterima pihak pengadilan maka keluar keputusan yang berbunyi “Pangeran dihukum jangan, dilepaskan” dan “Di gantung sapi mati”. (perhatikan letak koma pada rumusan pertama dan perubahan kata pada rumusan kedua).
Keputusan ini tentu sangat menguntungkan Pangeran karena menyangkut hidup dan matinya. Selanjutnya, Pangeran bebas dari tuduhan akan tetapi ia telah kehilangan jabatannya sebagai kepala Marga.